Sahabat, perkenankan saya menulis apa yangkami alami kemarin yang betul menguras tenaga namun alhamdulillah penuh berkah, insya ALLAH.
Pagi jam 8.30 terbangun dari tidur ba’da subuh, yang tidak merupakan kebiasaan saya di hari libur, namun terpaksa dilakukan untuk menjaga stamina yang akan saya lakukan hari ini, minggu 1 maret. Tidur ba’da subuh ini saya perlukan krn tadi malam habis main badminton dengan tetangga hingga jam 21.30, dilanjutkan bercerita dengan Yolanda dan Nova hingga jam 12 malam setelah suara sudah mulai serak baru ke pembaringan. Nenek Nova dan Yolanda baru meninggal kamis, tanggal 26 Feb 09 di bukittinggi.
Bangun tidur, saya langsung cuci motor, sementara Nova mempersiapkan segala hal tentang keberangkan untuk silaturahim keluarga besar alumni HMI koms, mulai dari pakaian dan sarapan anak-anak. Jam 9.00 teng kami berangkat dari rumah, sambil Nova titip pesan ama ibu tetangga untuk iuran kado buat tetangga yang baru pulang dari RS habis melahirkan. Dijalan pun singgah sebentar untuk beli lapis legit.
Cuaca yang lumayan panas, sementara anak2 baru habis batuk dan flu, tak jadi halangan. Dengan kwaspadaan tinggi disertai doa kami nikmati perjalanan hingga sampai di lokasi jam 10.10 WIB. Sambil menunggu ni Ola yang sudah hampir di lokasi kantor da michel, kami nikmati lapis legit yang tadi di beli. Intinya, anak2 tetap harus terisi perutnya sambil menunggu agar tak bosan. Ni Ola datang kami istrahat sejenak menunggu sahabat lainnya datang.
Tak lama berselang Arles datang, disusul dengan ni Nenny Rochyani serta anak-anaknya, 2 boys and 1 girl, serta mbaknya. Da jun, suami ni Nenny, yang juga urang kampuang ambo, ndak sempat turun dek ado urusan lo ka Senen, cari onderdil mobil, katanya. Anak-anak asyik bermain sambil melihat ikan yang ada dikolam kecil no Ola sembari melemparkan makanan kecil ke dalamnya buat ikan2 tsb.
Sementara kami mulai diskusi ringan, hingga satu hal yang membuat saya agak terkesima dengan realita yang ada tentang keberadaan kader HMI di tengah masyarakatnya. Bahwa memang kader HMI itu sangat bagus di Wisma, di kampus, di kota padang, tapi kita terhenyak ketika kenyataannya di kampung masing-masing, anak HMI tak didengar suaranya bahkan oleh wali nagari/wali jorong sendiri. Tak ada jaminan dengan jabatan ketua di badko atau pun cabang, ternyata di lingkungan dia dibesarkan, masyarakat tak mengenalnya, tidak memberi warna. Ini lah kenyataan yang ada. Mudah-mudahan isu ini tak mengena bagi adiak-adiak awak nan di MIPA. Lontaran ini menjadi cerminan tersendiri bagi kita semua.
Ditengah diskusi kami ini, Sabrina datang dengan suami, Novan dan satu dari dua putri mereka, dengan membawa donat yang langsung jadi rebutan anak-anak. Alhamdulilah, suasana makin ramai. Istirahat sholat Zuhur, diskusi pun berlanjut hingga ada keinginan untuk tetap melanjutkan kegiatan hingga, minimal tiap 3 bulan sekali, termasuk juga untuk mendata alumni Koms yang ada di jkt dsk ini. Info tambahan bahwa kanda Sofiarma Tarmizi, M Yanis, dll adalah alumni koms MIPA juga. Insya ALLAH semuanya juga sepakat untuk meningkatkan komunikasi di milis ini, sebagai motivasi juga buat adiak-adiak yang masih berproses di komisariat.
Pas jam 13.00 lewat sedikit, Sabrina dan kel. pamit karena ada arisan keluarga di rumah tantenya di daerah Jurang Mangu Indah, disusul dengan ni Nenny dan kel setelah itu. Tinggal jeje n kel, ni Ola dan Arles melanjutkan cerita ini, hingga ada keinginan untuk menciptakan keharmonisan adiak2 nan sadang berproses di PB HMI. Namun suasana mulai sedikit terganggu dengan mulai mengantuknya Imam, dia mulai rewel, dan terpaksalah pertemuan itu diakhiri.
Kurang lebih jam 13.30 kami bubar, begitu juga dengan Arles, yang selalu energik, punya wawasan dan pengalan yang luas. Ke-HMI-an beliau tak luntur, selalu penuh idealisme. Salut buat Arles. Dan kami pun berpisah.
Di tengah jalan, Nova minta istirahat sebentar untuk mampri di restotan. Makan dulu, sebelum anak-anak tertidur lagi. Kami pun singgah di RM Padang, pesan soto padang untuk Imam dan Dhila. Setelah itu kami siap meluncur pulang tanpai mampir-mampir lagi. Alhamdulillah pas azan Azhar berkumandang kami sudah dirumah lagi. Anak-anak dan saya mandi, terus sholat Azhar, si bundo Nova sudah bergerilya menghimpun dana ibu2 RT dan membeli kado ke Carefour Bintaro. Dhila dan Imam masih sempat main dengan teman-temanya, saya pun menungu kedatangan Tri Guzaini k92 yang datang dari bogor.
Tri Adalah sahabat saya sejak di kampus dulu hingga saat ini. Setelah kami bekerja di Jkt ini, rumah orang tuanya di Bogor menjadi base camp angkatan kimia 92, yang saya sudah dianggap anak sendiri oleh ibu Tri karena hampir tiap bulan main ke sana.
Dengan Tri dan keluarganya, kami pun sudah berjanji akan pergi ke Kotabumi tangerang untuak mencaliak anak Misrawati k 92 dan Gusmeri Yondra K91 (alumni HMI koms MIPA juga, aktif di intern kampus). Tunggu punya tunggu, tri pun sampai di rumah jam 19.00 WIB, mereka pun sholat, istirahat sejenak sambil makan jeruk dll, sekalian menyelesaikan tugas Nova dalam mancaliak tetangga nan habis melahirkan tadi. Belum sempat selesai acara Ibu-ibu, nova sudah izin mau berangkat dengan kami. Pas ba’da isya kami pun berangkat ke Kotabumi, tangerang.
Tak berapa lama mobil berjalan, Imampun sudah tertidur dipangkuan saya. Alhamdulillah selama perjalanan satu setengah jam lamanya kami pun sampai di rumah Gusmeri Yondra. Kami pun masih ingat bahwa mereka menikah pada 31 Desember 2000, dan selama itu pula baru sekarang dikarunia anak oleh ALLAH SWT. Luar biasa penantian sahabat kami ini dalam menunggu bayi yang sangat diharapkan kehadirannya oleh tiap pasutri. Ini lah karunia ALLAH, hak preogatif ALLAH, tak ada kuasa kita dalam hal ini. Seberapa pun usaha kita, kalo belum rezeki, ya harus sabar dan tawakal pada-Nya haruslah senantiasa terpelihara. Saya juga teringat apa yang dialami oleh saudara Arles dan Rina, yang dua putri2 mereka dipanggil oleh ALLAH ketika masih bayi. So semua kita memang seharusnya berserah diri pada ALLAH karena Dia jauh lebih tahu tentang kita, hamba ciptaannya. Dia lah yang Maha Kuasa, tak ada kuasa kita tanpa izin-Nya.
Alhamdulillah, kami pun bercerita panjang lebar sembari makan malam di rumah Menye hingga jam 10.30. Imam masih tertidur di sofa Menye ketika kami datang hingga mau pulang, bangun sebentar dan tidur lagi hingga kami sampai di rumah lagi jam 12.00 malam. Perjalanan nan luar biasa yang pernah kami lewati untuk bersilaturahim selama ini, namun semua penuh semangat. Ada kelelahan memang, tapi itu terbayarkan segera.
Entah jam berapa pula Tri dan keluarganya sampai di Bogor, paling tidak Bintaro - Bogor ada satu jam perjalanan lagi. Sudah ditawari untuk menginap diruma, besok pagi ba’da subuh baru pulang, namun beliau tidak mau, mungkin ada hal penting yang musti dilakukan Senin pagi. Maklum sahabat saya satu ini punya toko di Bogor.
Ya ALLAH, terima kasih atas kekuatan stamina yang dibungkus semangat silaturahim yang telah Engkau karuniakan pada kami. Semoga perjalanan ini menjadi ibadah disisi-Mu, ya ALLAH. Semoga silaturahim ini akan membuka pintu rezeki bagi kami dan memperpanjang usia produktif kami. Semoga persahabatan, silaturahim ini Engkau pelihara hingga ke anak cucu kami kelak. Amin
Demikian sahabat tulisan saya ini, mohon maaf bila ada yang salah dalam penyampaian. Semoga ada hikmah bagi kita semua, wassalammu’alaikum wrbw.
Saya Akan Bahagia, nanti....
16 tahun yang lalu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar