Selasa, 05 Mei 2009

Nafsu Ingin Menjadi Pemimpin

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang,salah satunya dalam ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat,mereka saling bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin.

Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena Umar adalah seorang yang kuat.

Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.

Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah berubah jauh.

Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi ambisi menjadi pemimpin.

Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya atas kepemimpinannya...".

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw memprediksi hiruk pikuk di akhir zaman soal kekuasaan dan menjelaskan hakikat dari kekuasaan itu. Beliau bersabda seperti dilaporkan oleh Abu Hurairah :

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam Bukhori).

Juga Rasulullah Saw memperingatkan mereka yang sedang berkuasa yang lari dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk kepentingan rakyatnya, dengan sabda beliau : “Siapa yang diberikan Allah kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu Daud).

Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan kemiskinannya.”

Hadits-hadits yang ada lebih banyak menggambarkan pahitnya menjadi pemimpin ketimbang manisnya. Sedang mereka adalah generasi yang lebih mengutamakan kesenangan ukhrowi daripada kenikmatan duniawi. Itulah yang dapat ditangkap dari keberatan mereka.

Sementara orang yang hidup di zaman ini berfikir terbalik. Yang mereka kejar adalah kesenangan duniawi yang didapat melalui jabatan dan kekuasaan. Mereka lupa dengan pertanggung jawaban di hari Kiamat itu. Mereka tidak segan-segan bermanuver dan merekayasa untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan itu.

Kadangkala cara yang dipakai sudah hampir sama dengan cara kaum kuffar atau kaum sekuler, menghancurkan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat fundamental; mencari dan mengumpulkan kelemahan lawan politik dan pada waktunya aib-aib itu dibeberkan untuk mengganjal jalan kompetitornya.

Ada pula yang mengumpulkan dana dengan cara-cara yang tak pantas dan tak bermoral. Mendukung calon kepala daerah dalam pilkada dari partai mana saja, asal dengan imbalan materi dengan menyerahkan uang yang besar. Terserah orang itu menang atau kalah nanti, tak begitu penting, yang penting uangnya sudah didapat.

Para pemburu kekuasaan itu beralasan, jika kepemimpinan itu tidak direbut, maka ia akan dipegang oleh orang-orang Fasik dan tangan tak Amanah, yang akan menyebarkan kemungkaran dan maksiat. Tapi jika ia dipegang oleh orang soleh dan beriman, akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Alasan ini memang indah kedengaran.

Namun kenyataannya, semua yang berebut jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik dari yang sedang memimpin. Dan tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika ia memimpin, keadaan akan menjadi lebih baik.

Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi setelah masuk ke dalam sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba bertahan dengan idealisme, mendapat serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya menyerah kepada keadaan.

Berapa banyak mantan aktifis mahasiswa yang sebelumnya kritis dan berdemo menentang rezim masa lalu, tetapi sesudah masuk ke dalam sistem, tidak bisa merubah apa-apa, bahkan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh rezim sebelumnya, memanfaatkan jabatan untuk menimbun uang dan kekayaan.

Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah sesuatu tak bisa sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh hitam-putih, apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari masa sebelumnya.

Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa memperbaiki sistem tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak mungkin melakukan perubahan selama kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang kalau mau merubah sistem, harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah terjun ke dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu membersihkan, justru ikut terkena kotoran.

Memang ada sebagian yang masuk ke dalam sistem dengan cara yang sah, lalu berjuang di dalamnya dengan penuh resiko, mencoba melakukan perubahan dan bertahan dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya. Mereka ini biasanya kalau tak tersingkir, dimusuhi atau makan hati.

Gerakan Islam sebenarnya lebih besar dari sekadar Partai Politik yang dibatasi oleh aturan-aturan formal, aturan main, dan bahkan ideologi kebangsaan. Gerakan Islam berjuang untuk jangka waktu yang tak terbatas, hingga Islam itu tegak berdiri dengan kokoh. Lingkup kerjanya juga tidak hanya menyangkut soal-soal politik.

Ketika gerakan Islam menjadi partai politik, sebenarnya ia sedang dipasung dan dihadapkan pada agenda kacangan yang didiktekan kepadanya yang bukan menjadi agenda utamanya. Bahkan kesibukannya mengurusi soal-soal politik hanyalah pembelokan dari target utama dan juga pemborosan energi yang tak setimpal dengan hasil yang dicapainya. Ibarat membayar dengan harga emas untuk membeli besi.

Betapa sayangnya seorang yang sudah tiga puluh tahun malang melintang dalam gerakan Islam, ujung-ujungnya hanya menjadi tukang lobi kesana-kemari untuk memperjuangkan kursi alias kekuasaan. Sungguh menyedihkan. Yang diperjuangkan oleh gerakan Islam adalah sebuah agenda besar yang mendunia (Ustaziyyatul ‘Alam), bukan agenda lokal dan sektor sempit dan terbatas.

Lalu di sini mungkin pertanyaan akan muncul, apakah urusan lokal yang berujung pada kemaslahtan ummat Islam itu diabaikan? Jawabannya jelas tidak. Akan tetapi biarlah masalah-masalah lokal dan sektoral itu diurusi oleh anak-anak ummat yang mempunyai kualitas lokal.

Adapun gerakan Islam yang sudah mendunia haruslah bekerja sesuai dengan kapasitasnya. Tak pantas pemuda-pemuda gerakan diminta mengurus pilkada, pemilu, menempel-nempel poster, apalagi bertarung dengan orang-orang yang tak sekapasitas dengannya.

Gerakan Islam sekali lagi harusnya mengurusi hal-hal yang lebih besar, lebih strategis, yakni pembinaan ummat, membangun generasi intelek dan beriman, mengarahkan pemikiran ummat kepada cara berpikir yang Islami setelah mengalami degradasi. Anak-anak gerakan yang tak naik kelas bolehlah dipersilahkan terjun ke dunia politik praktis. Karena sampai di situlah mungkin batas kemampuannya.

Ada hikmahnya kenapa Allah swt tidak mengizinkan gerakan Islam di negeri induknya berkecimpung dalam politik praktis secara besar-besaran. Karena hal itu akan membuat mereka lalai dari perjuangan utama. Target utamanya bukan untuk mendapat kursi Perdana Menteri, atau bahkan Presiden sekalipun, tetapi untuk menjadi qiyadah fikriyah bagi pergerakan Islam sedunia.

Andaikan peluang lokal itu terbuka, niscaya mereka akan sibuk dengan masalah-masalah parsial di lapangan sementara tugas mereka jauh lebih kompleks dari membenahi sebuah negara yang masyarakatnya sudah rusak secara ideologis, moral dan perasaan.

Tugas Gerakan Islam lebih besar dari membersihkan korupsi, ketimpangan ekonomi, ketidak merataan pembangunan. Tugas mereka adalah mengembalikan penyembahan kepada Allah setelah mengalami degradasi dengan menuhankan manusia dan Tuhan-tuhan lainnya. (*Ikhrojun Naas min Ibadatil Ibad ilaa Ibadatil Robbil Ibaad*).

Kiriman: Rahmat Budi, sahabat di PBH

Kamis, 23 April 2009

Terapi Pelukan

12 Pelukan Sehari, Dijamin Tak Sakit-Sakitan Lagi .... !!!

"Untuk bertahan hidup, kita membutuhkan 4 pelukan sehari.
Untuk kesehatan, kita butuh 8 pelukan perhari. Untuk
pertumbuhan, awet muda, kebahagiaan, kita perlu 12 pelukan
perhari," kata Virginia Satir, terapis keluarga.

Mungkin, Anda sedikit heran, benarkah pelukan memiliki
kekuatan yang begitu hebat, hingga bisa membuat sehat, panjang
umur, dan awet muda? Kapan terakhir kali Anda memeluk
seseorang atau seseorang memeluk Anda? Jika jawabannya jarang
atau bahkan tidak pernah sama sekali, coba ingat-ingat, apa
yang belakangan ini Anda rasakan? Bisa jadi Anda sering
sakit-sakitan, depresi, stres, sakit kepala, dan emosional.

Berbagai penelitian menunjukkan terapi pelukan bisa
menyembuhkan penyakit fisi dan psikis. Bisa mengatasi stres,
depresi dan lain-lain.. Orang yang dipeluk, ataupun memeluk,
merasakan adanya kekuatan cinta yang mengelilingi mereka.
Kekuatan ini yang membuat kekebalan tubuh kita semakin
meningkat.

Pelukan Damai
Saat berpelukan, tubuh melepaskan oxytocin , hormon yang
berhubungan dengan perasaan damai dan cinta. Hormon oxytocin
ini membuat jantung dan pikiran sehat. Hormon oxytocin ini
baru bisa keluar jika manusia memiliki kehidupan sehat &
merasa damai dan tentram.

Terapi pelukan hampir sama dengan terapi jalan kaki. Terapi
pelukan meningkatkan keseimbangan tubuh, kesehatan, dan
mengurangi tingkat stres, khususnya para profesional muda yang
bekerja di kota metropolitan. Pelukan bukan berarti Anda harus
mencari suami atau kekasih untuk melakukan hal ini. Pelukan
dapat dilakukan pada siapa saja dengan penuh kasih dan damai.
Tentu saja pelukan ini bukan berkonotasi negatif apalagi
mengikutsertakan gairah. Pelukan ini juga bukan 'pelukan
sosial', seperti berjabat tangan, mencium pipi kiri dan kanan,
seperti yang dilakukan oleh budaya masyarakat beberapa negara
pada saat pesta atau pertama kali bertemu. Pelukan yang
dimaksud adalah pelukan saling menyentuh, tubuh dengan tubuh
saling mengikat dan menyentuh. Ketika saling berpelukan, akan
terasa perasaan nyaman dan damai.

Di Indonesia juga beberapa negara lainnya berpelukan hanya
dilakukan pada pasangan suami istri, saudara, orang tua ke
anaknya. Di Amerika sebuah lembaga ada yang mengkoordinir
untuk mengadakan Free Hug di jalanan. Jangan kaget jika suatu
hari, saat Anda berkunjung ke Amerika dan Eropa, melihat
beberapa orang dengan papan besar di dada, bertuliskan Free
Hug. Mereka adalah para relawan yang memberikan terapi pelukan
pada setiap orang yang membutuhkan.

Anak Tumbuh Sehat
"Tapi, kita harus ingat. Walau sekadar jabat tangan dan
menyentuh pipi dengan pipi, ini juga ada manfaatnya. Ada rasa
kehangatan ketika kita saling berjabat tangan. Namun bila ini
dilakukan lebih dari ini, yaitu dengan pelukan erat, tentu
lebih bermanfaat, unsur terapinya lebih tinggi," ujar Dr.
Bhagat, salah satu doktor yang meneliti pengaruh pelukan di
India. Diharapkan masyarakat mengerti akan manfaat sentuhan
dan pelukan. Sehingga pasangan suami istri, semakin sering
berpelukan dan bersentuhan. Juga makin sering memeluk
anak-anaknya.

Seluruh bagian di kulit kita memiliki organ perasa. Dari ujung
kaki hingga kepala adalah area yang sensitif bila disentuh.
Bahkan ketika bayi masih di dalam kandungan walau dilindungi
air ketuban, ia sangat menyukai sentuhan kasih sayang dari ke
dua orang tuanya Jika sering disentuh, bayi dalam kandungan
akan tumbuh menjadi bayi yang sehat dengan pertumbuhan yang
bagus. Selain itu secara psikis bayi akan tumbuh menjadi
seorang yang penyayang.

Anak-anak yang sering disentuh, dibelai dan dipeluk oleh orang
tuanya juga akan tumbuh menjadi anak yang sehat. Mereka akan
merasa nyaman dan memiliki kepercayaan diri. Pertumbuhan dan
kesehatan pun lebih bagus dibanding dengan anak-anak yang
jarang disentuh, dibelai dan dipeluk.

Pada orang tua pun, sentuhan dan pelukan sangat berarti.
Apalagi pada saat kehilangan seseorang, depresi, stres.. Dengan
berpelukan, orang dewasa merasa ada orang yang memperhatikan,
ada orang yang mencintainya, membutuhkannya. Seluruh kulit
kita, sangat peka dengan pelukan, dan sangat membutuhkan
sentuhan hangat dan erat.

Transformasi Rasa Nyaman
Seorang master reiki di Mumbai , India , berkata," pelukan
adalah salah satu alat untuk bertransformasi. Dengan pelukan
satu pribadi dengan pribadi lain semakin dekat. Jika hubungan
Anda dengan orang lain renggang. Salah satu cara agar hubungan
itu menghangat dengan memeluknya... Jika rumah tangga Anda
diambang kehancuran, cobalah memeluk pasangan Anda 20 kali
sehari. Saya yakin Anda berdua tak akan bercerai. Selain itu,
hidup Anda berdua akan lebih bahagia, sehat, dan awet muda.
Serta Anda akan terhindar dari stress dan depresi."

Dr. Harold Voth, senior psikiater di Kansas, Amerika Serikat
telah melakukan riset dengan beberapa ratus orang. Hasilnya,
mereka yang berpelukan mampu mengusir depresi, meningkatkan
kekebalan tubuh, awet muda, tidur lebih nyenyak, lebih sehat..
Jika Bayi atau anak-anak rewel atau sakit. Jangan biarkan
mereka sendirian. Peluklah. Dengan memeluk, mereka akan merasa
nyaman. Sehingga kekebalan tubuhnya lebih baik, dan kesehatan
mereka pun akan jauh lebih baik. Anda sebagai orang tua pun
mendapatkan efek baik dari terapi pelukan ini. Anda akan jauh
lebih sehat, muda, terbebas dari depresi.

Pelukan dapat menyembukan sakit fisik dan psikis.
Sentuhan yang dihasilkan dari pelukan membantu mengurangi rasa sakit.
Beberapa penyakit parah sering kali membuat penderitanya
merasa frustasi, marah, tak mungkin penyakitnya bisa
disembuhkan. Dengan pelukan, pasien yang prustasi ini merasa
nyaman. Pelukan memberikan energi positif pada emosi pasien.
Sehingga mengubah emosi negatifnya menjadi emosi positif.
Apalagi bila pasien mendapatkan pelukan dari orang yang
dicintainya. Bukankah cinta itu adalah kekuatan yang maha
dahsyat, dan pelukan adalah salah satu cara untuk menyatakan
cinta, atau suatu bentuk cinta.

Jadi tunggu apa lagi... ???

Selasa, 21 April 2009

Buat Yang Kalah Dalam Berjuang di 2009

Aku memang belum menang
Namun aku bukanlah pecundang
Yang jelas aku telah berjuang
Menang kalah itu urusan belakang

Banyak harta dan waktu yang terbuang
Bahkan mungkin juga akan terlilit utang
Rumah dan mobil pun akan di sita bank
Biar radio sekali pun akan menjadi milik orang

Tapi aku adalah orang yang lapang
Aku ikhlaskan saja biar hidup jadi tenang
Hidup tanpa punya utang

Yang aku takut adalah teman melayang
Saudara tak ada yang datang
Anak dan istri pun tak pulang-pulang
Karena aku miskin dan tinggal tulang

Namun itulah resiko dalam berjuang
Ku bulatkan tekad untuk tetap lapang
Berjuang lagi untuk lima tahun yang akan datang
Dengan persiapan yang lebih matang

Siapa tahu aku bisa menang???

By: Aryandi
21 Apr. 09, 11.25

Jumat, 03 April 2009

Mengapa belajar wirausaha itu perlu?

Pertama, penghasilan seorang karyawan terutama yang masih berada di tingkat staf pelaksana, lebih-lebih yang masih non-staf, bahkan mereka yang sudah berpredikat 1st line manager, pada umumnya belum mencukupi kebutuhan hidup secara wajar. Di sini mereka perlu pandai- pandai menata kehidupannya untuk menambah penghasilan, oleh karenanya mempelajari dan menjadi familiar dengan seluk beluk kewirausahaan merupakan salah satu solusi terbaik.

Kedua, kalau Anda seorang karyawan, lebih-lebih kalau Anda sudah menduduki posisi tinggi dan strategis, datangnya masa pensiun nanti akan merupakan saat-saat yang kritis dan mencekam. Apa yang akan Anda lakukan setelah purnabhakti? Bagaimana kalau uang simpanan Anda yang banyak itu tahu-tahu amblas karena salah berbisnis? Nah, belajar menjadi wirausahawan handal adalah jalan keluar yang paling tepat.

Ketiga, kalau Anda sekarang adalah seorang pengangguran, tentu otak Anda sudah "kapalan" dengan kenyataan bahwa mencari pekerjaan itu susaah bukan main. Kalau sudah demikian, percaya sama saya, bahwa kewirausahaan merupakan jalan lebar bagi Anda menuju kesuksesan hidup.

Keempat, kalau Anda kini merupakan seorang mahasiswa, tentu Anda alami sendiri bahwa biaya kuliah Anda itu tidak murah. Anda tahu tidak semua generasi muda berkesempatan duduk di bangku di Perguruan Tinggi, karena mahalnya biaya. Anda pun tahu kalau orang tua Anda sudah demikian bersusah payah mengongkosi Anda belajar, entah dari mana uangnya, entah dengan cara apa mereka mencari duitnya. Kalau Anda ingin menjamin kesinambungan kuliah sekaligus menjamin masa depan diri sendiri dengan cara mandiri, kewirausahaan akan menjadi bekal Anda.

Kelima, Anda tahu bahwa secara proporsional, statistik memperlihatkan bahwa sarjana yang menganggur merupakan salah satu kategori pengangguran terbesar. Kalau Anda merupakan salah seorang di antaranya, belajar kewirausahaan akan memberi Anda jalan menuju "sorga".

Keenam, nah ini yang paling "serem". Tahukah Anda, bahwa tren bisnis yang akan datang akan memaksa kita semua untuk jadi wirausahawan?
Persaingan yang semakin ketat, mengharuskan semua perusahaan memaksimalkan efisiensi, sehingga rekrutmen karyawan terus ditekan sampai ke titik minimum. Kita sudah lihat gejalanya sekarang, di mana penerimaan karyawan kebanyakan dilakukan dengan sistem kontrak, paling tidak pada 2 tahun pertama. Jika karyawan tidak dibutuhkan lagi setelah 2 tahun, pasti ada PHK. Kemudian, pos-pos kerja yang bisa dilakukan pihak ketiga, hampir pasti akan di "outsource" kan.
Tidak ada lagi peluang melamar posisi-posisi yang sudah di- outsource. Sementara itu di dunia industri, tidak terlalu lama lagi akan dimanfaatkan robot-robot pengganti tenaga manusia. Tidak ada lagi lowongan menjadi buruh dan mandor pabrik.

So what gitu loh? Jelas kan, bahwa mempelajari kewirausahaan itu perlu? Kapan sebaiknya mulai?

Memahami dan Mengatur Risiko Investasi

SEMUA tindakan yang kita ambil dalam hidup tak luput dari risiko, termasuk berinvestasi. Seluruh jenis investasi akan selalu memiliki risiko, namum kadarnya berbeda-beda. Kemungkinan dana investasi dapat menyusut atau bahkan hilang sama sekali tetap akan ada. Hal ini pernah terjadi pada beberapa investor yang menanamkan modalnya pada perusahaan. Sebut saja kasus yang terjadi pada PT QSAR beberapa tahun lalu. Nasib perusahaan yang konon bergerak di bidang pertanian itu berakhir dengan tragis. Hampir seluruh investor yang menanamkan modal di perusahaan tersebut tidak bisa mendapatkan kembali modal yang telah diinvestasikannya.

Secara historis, jenis investasi yang relatif aman adalah deposito, tabungan dan sejenisnya. Tetapi itu pun bukan tanpa risiko, hanya risikonya lebih rendah. Sebagai konsekuensinya tingkat pengembalian investasinya pun relatif rendah. Bahkan sebenarnya investasi jenis ini pun tetap menghadapi risiko yang dinamakan dengan inflasi. Dengan adanya inflasi, secara nominal jumlah uang kita memang bertambah namun secara riil nilai uang kita akan berkurang. Itu terjadi jika pertumbuhan atau tingkat pengembalian investasi pada jenis investasi tersebut menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat atau laju inflasi.

Jenis-jenis Risiko
* Risiko inflasi
Dalam keadaan inflasi meningkat yang sangat tinggi seperti yang terjadi pada tahun 1998. Saat itu inflasi mencapai 77% sehingga tingkat pengembalian investasi sering tidak dapat mengejar laju inflasi tersebut. Inflasi pada dasarnya adalah berpotensi untuk mengurangi daya beli dari pendapatan atau uang yang kita miliki.

*Risiko perubahan tingkat bunga
Tingkat bunga yang berubah-ubah dapat merugikan jenis investasi kita. Contohnya adalah apabila kita membuka deposito untuk jangka waktu 1 tahun pada bulan Januari 2005 dengan bunga sebesar 6% per tahun, namun pada bulan Mei 2005 misalkan bunga deposito meningkat menjadi 7% maka kita mengalami kerugian paling tidak selama 1% per bulan sejak kenaikan tingkat bunga deposito sampai dengan masa jatuh tempo deposito tersebut. Sebagai langkah antisipasinya adalah bila kita memperkirakan bahwa bunga bank akan cenderung meningkat maka sebaiknya kita menempatkan uang kita dalam deposito yang berjangka sangat pendek misalkan 1 bulan atau paling lama 3 bulan

* Risiko manajemen
Risiko ini dapat terjadi bila kita menempatkan uang kita baik sebagai pemegang saham maupun yang memberikan utang kepada suatu jenis perusahaan. Apabila manajemen perusahaan yang diberi tanggung jawab untuk mengelola perusahaan bertindak ceroboh bahkan melakukan kegiatan yang merugikan perusahaan, maka kita sebagai investor akan mengalami kerugian. Jangankan uang kita dapat berkembang bahkan uang kita habis nilainya untuk menutupi kerugian yang ada.

* Risiko keuangan
Dalam membeli suatu perusahaan atau meminjamkan uang kepada perusahaan tertentu, kita juga sebaiknya mengetahui apakah perusahaan tersebut memiliki rasio utang yang wajar. Hal ini biasanya tercermin dari rasio antara utang dengan modal perusahaan yang relatif tinggi dibandingkan dengan perusahaan sejenis yang bergerak di bidang yang sama. Semakin tinggi rasio utang dengan modal yang ada maka akan semakin tinggi risiko perusahaan atau usaha tersebut mengalami kegagalan dalam membayar kewajiban yang ada atau bahkan risiko kebangkrutan akan lebih besar.

Perbedaan risiko dan kekhawatiran
Ketika berbicara mengenai risiko maka hal yang sebaiknya diingat adalah bahwa risiko berbeda dengan kekhawatiran atau bahkan ketakutan. Kekhawatiran adalah perasaan kuat seseorang terhadap adanya suatu ancaman yang akan terjadi dalam masa yang akan datang. Investor yang takut adalah investor yang tidak dapat tidur atau selalu gelisah dengan uang yang diinvestasikan dalam satu jenis tertentu investasi. Perlu kita pahami dengan baik bahwa risiko adalah suatu hal yang wajar kita hadapi dan bila kita sudah siap dengan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi atau risiko sudah kita perhitungkan dengan baik maka sebenarnya tidak ada alasan untuk khawatir melakukan investasi.

Pengaruh usia dan preferensi risiko
Keputusan investasi sebaiknya dapat menyeimbangkan antara risiko dengan imbal hasil. Seringkali keputusan yang dibuat hari ini mungkin kurang sesuai dengan kondisi pada masa tua kita nanti. Sehingga sebelum kita memutuskan untuk berinvestasi maka pertimbangkan dengan baik usia kita saat ini dan juga tujuan hidup kita pada masa tua atau pensiun. Apabila usia kita sekarang adalah 30 tahun maka tentunya keputusan investasi kita akan lain dengan ketika sekarang berusia 50 tahun. Prinsipnya semakin muda maka jenis investasi yang dipilih pun dapat yang memiliki hasil lebih tinggi, namun tentunya juga memiliki risiko lebih tinggi.

Hal penting lainnya adalah kita harus mengenal sifat pribadi kita. Apakah kita tahan dan senang menghadapi risiko, biasa-biasa saja atau ingin selalu menghindari risiko. Keputusan investasi akan tergantung dari sifat yag kita miliki karena bagaimanapun ketenangan hidup harus menjadi pilihan utama.

Bagaimana mengatur risiko?
Ada beberapa cara yang bermanfaat dalam mengatur risiko yakni :

Diversifikasi
Prinsip diversifikasi yang utama adalah jangan menaruh seluruh uang kita dalam satu jenis investasi. Sebarlah jenis investasi kita dalam berbagai aneka jenis investasi yang sesuai dengan imbal hasil, tujuan dan risiko yang dapat kita terima.
Apabila kita membeli saham perusahaan maka hendaknya kita memilih berbagai jenis saham perusahaan yang memiliki jenis industri yang berbeda. Untuk lebih amannya bahkan kita dapat memilih jenis industri yang memiliki karakteristik berlawanan artinya bahwa jika industri A mengalami penurunan maka secara alamiah industri B mengalami peningkatan.

Strategi ini adalah membeli saham yang memiliki fundamental yang kokoh dalam kurun waktu tertentu secara teratur. Seperti kita ketahui, harga saham kadang naik dan turun, dengan strategi ini maka kita tidak terlalu merisaukan adanya peningkatan maupun penurunan harga dari saham yang kita pilih. Katakan kita memiliki uang setiap bulan yang akan kita investasikan di saham adalah sebesar Rp. 1 juta per bulan maka setiap bulan kita akan membeli saham tersebut secara teratur sampai suatu titik kita merasa cukup untuk memiliki saham tersebut. Sehingga diharapkan bahwa secara rata-rata harga saham yang kita beli tersebut akan sama dengan harga rata-rata pasar selama kurun waktu pembelian. Kemudian saham tersebut kita simpan dalam jagka waktu yang cukup panjang dan kita jual ketika harga sudah meningkat secara signifikan dan sesuai dengan tingkat keuntungan yang kita harapkan.

Reksadana
Dengan membeli reksadana, maka sebenarnya secara otomatis kita melakukan langkah diversifikasi. Karena reksadana memiliki berbagai jenis portfolio investasi yang berbeda tergantung dari jenis reksadananya. Untuk lebih aman, kita dapat membeli berbagai jenis reksadana yang memiliki karakteristik berbeda sehingga jika reksadana A mengalami penurunan dapat dilindungi dengan reksadana B yang mengalami peningkatan.

Alokasi aset
Strategi ini adalah selalu mengubah komposisi aset yang tepat disesuaikan dengan perkembangan lingkungan baik aspek makro dan mikro yang terjadi maupun juga kondisi dalam diri kita seperti usia, preferensi terhadap risiko dan lain-lain. Misalkan saat ini kita memiliki 30% investasi dalam bentuk deposito, 20% dalam bentuk saham dan 50% dalam bentuk properti. Kemudian misalkan kita meyakini bahwa pada tahun depan bursa saham prospekya tidak terlalu cerah maka kita dapat menurunkan komposisi aset kita dalam saham menjadi 10% misalnya. Contoh yang lain bila kita meyakini bahwa properti pada tahun depan akan mengalami peningkatan harga maka bisa saja kita mengurangi deposito menjadi 20% dan saham menjadi 15% sehingga aset properti menadi 65%.

Sebagai penutup dari tulisan ini maka sebelum kita melakukan investasi maka sebaiknya jawablah dulu pertanyaan di bawah ini :
1. Apakah dalam berinvestasi kita termasuk orang yang konservatif, agresif atau seimbang?
2. Berapa lama jangka waktu investasi?
3. Berapa banyak uang tunai yang sudah dapat disisihkan untuk keperluan mendadak?
Selamat berinvestasi dan mengatur risiko !***

Selasa, 31 Maret 2009

Sukses Adalah Pilihan Hidup

Suatu hari anak saya memilih permainan puzzle yang terdiri dari 1000 keping potongan gambar. Setelah itu, ia mulai melaksanakan langkah-langkah menyusun keping demi keping puzzle. Rupanya ia mempunyai strategi menyusun dengan mulai membuat kerangka gambar lalu mengelompokkan kepingan-kepingan itu berdasarkan warna. Setelah itu barulah ia meletakkan kepingan-kepingan tersebut pada tempat semestinya. Semakin banyak kepingan puzzle, akan semakin sulit dikerjakan. Sebenarnya ia bisa saja memilih puzzle yang terdiri dari 5 atau 10 keping saja. Tapi dia sengaja memilih yang terdiri dari ribuan keping dengan alasan semakin sulit permainan akan menghasilkan gambar lebih berwarna, bernuansa indah, dsb. Selain memperhatikan anak saya menyusun puzzle, saya juga sibuk berpikir. Jika tanggung jawab hidup semakin besar, mungkin kehidupan ini terasa lebih berat. Namun bila tanggung jawab itu dapat diselesaikan dengan baik, maka kehidupan inipun akan terasa lebih berarti, menyenangkan, berwarna dan nikmat.

Hakekat pencapaian kesuksesanpun tidak berbeda. Sama seperti yang dikatakan oleh Dwight D.Eisenhower: “The history of free men is never written by chance but by choice, their choice”. Sejarah seorg manusia merdeka tidak pernah tercipta secara kebetulan, melainkan tercipta karena pilihan mereka sendiri," katanya.
Hakekat kesuksesan adalah pilihan kita sendiri. Terserah diri kita, memilih tanggung jawab hidup lebih besar atau sedikit? Jika tanggung jawab yang besar, maka kehidupan akan terasa lebih sulit tetapi mendapatkan nilai hidup lebih besar. Apakah kita ingin mendapatkan kehidupan yang sukses dan berharga? Jika Anda benar-benar menginginkannya, ada 4 tanggungjawab yang paling mendasar dan menjamin keberhasilan .

Tanggung jawab pertama: “bersikap jujur”. Orang-orang yang tulus dan jujur sangat mudah meraih kesuksesan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mengapa? Karena sikap jujur menjadikan kita mudah dipercaya orang lain. Selain itu, kita juga akan semakin PD berusaha mencapai sukses di masa depan. Sebuah pepatah bijak mengatakan, “Confidence is the companion of success”. Percaya diri merupakan pasangan dari kesuksesan."

Tanggung jawab selanjutnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sukses dan bermakna adalah “kemauan untuk berbagi dengan orang lain”. Sadari satu prinsip bahwa “you reap what you sow” – Anda akan memanen apa yang Anda tanam. Jika Anda memilih untuk hidup lebih sukses,maka jngn pernah membiarkan diri Anda pelit untuk berbagi dengan sesama. “False happiness renders men stern and proud, and that happiness is never communicated. True happiness renders kind and sensible, and that happiness is always shared”. Kebahagiaan semu cenderung menjadikan seseorang kejam dan sombong, dan kebahagiaan seperti itu tidak akan pernah berarti. Kebahagiaan yang sesungguhnya menjadikan seseorang baik hati dan peka, dan kebahagiaan seperti itu yang akan sangat berharga dan bermakna tidak saja untuk diri sendiri,"kata Charles de Montesquieu.

Jika Anda berkeras untuk memilih kehidupan yang lebih sukses, maka tanggung jawab yang harus Anda laksanakan berikutnya adalah “giat bekerja”. Sejarah lebih banyak membeberkan fakta bahwa upaya yang sungguh-sungguh selalu mewarnai dinamika kehidupan mayoritas orang-orang sukses di dunia ini. Bila Anda berkomitmen untuk bekerja keras berarti Anda sudah memastikan pada pilihan kehidupan yang lebih sukses. Giat dalam arti mengerjakan pekerjaan yang benar, bukan pekerjaan yang kita sukai. Kata Socrates sesuatu yang sangat berharga bukan hal yang hanya bisa kita gunakan untuk hidup, melainkan untuk hidup dengan benar. "What most counts is not to live, but to live aright”, katanya.

Bila Anda memilih untuk “melakukan hal-hal yang benar”, berarti Anda sudah memilih kehidupan yang sukses dan penuh integritas. Sukses atau gagal adalah hasil dari apa yang kita pilih. “Events, circumstances, etc., have their origin in ourselves. They spring from seeds which we have sown.” – Setiap kejadian, keadaan yang sedang kita alami, dsb, kembali kepada diri kita sendiri. Semua itu berasal dari benih yang sudah kitatanam," kata Henry David Thoreau. Nah, mana pilihan anda?.

Selasa, 24 Maret 2009

Memilih, bukan GOLPUT!!!

Islam memberikan pedoman dalam memilih pemimpin yang baik. Dalam Al Qur’an, Allah SWT memerintahkan ummat Islam untuk memilih pemimpin yang baik dan beriman:

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.“ (An Nisaa 4:138-139)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin,maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim " (QS. Al-Maidah: 51)

"Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi pemimpin, maka mereka itulah orang2 yang zhalim" (At Taubah:23)

"Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang2 kafir menjadi wali (teman atau pelindung)" (An Nisaa:144)

"Janganlah orang2 mukmin mengambil orang2 kafir jadi pemimpin, bukan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah sedikitpun..." (Ali Imran:28)

Selain beriman, seorang pemimpin juga harus adil: Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “ada tujuh golongan manusia yang kelak akan memperoleh naungan dari Allah pada hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya, (mereka itu ialah):

1. Imam/pemimpin yang adil
2. Pemuda yang terus-menerus hidup dalam beribadah kepada Allah
3. Seorang yang hatinya tertambat di masjid-masjid
4. Dua orang yang bercinta-cintaan karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah pun karena Allah
5. Seorang pria yang diajak (berbuat serong) oleh seorang wanita kaya dan cantik, lalu ia menjawab “sesungguhnya aku takut kepada Allah”
6. Seorang yang bersedekah dengan satu sedekah dengan amat rahasia, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya
7. Seorang yang selalu ingat kepada Allah (dzikrullâh) di waktu sendirian, hingga melelehkan air matanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa…” (Q.s. Al-Maidah 5: 8)

Keadilan yang diserukan al-Qur’an pada dasarnya mencakup keadilan di bidang ekonomi, sosial, dan terlebih lagi, dalam bidang hukum. Seorang pemimpin yang adil, indikasinya adalah selalu menegakkan supremasi hukum; memandang dan memperlakukan semua manusia sama di depan hukum, tanpa pandang bulu. Hal inilah yang telah diperintahkan al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah ketika bertekad untuk menegakkan hukum (dalam konteks pencurian), walaupun pelakunya adalah putri beliau sendiri, Fatimah, misalnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135)

Dalam sebuah kesempatan, ketika seorang perempuan dari suku Makhzun dipotong tangannya lantaran mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta Usama bin Zaid supaya memohon kepada Rasulullah untuk membebaskannya, Rasulullah pun marah. Beliau bahkan mengingatkan bahwa, kehancuran masyarakat sebelum kita disebabkan oleh ketidakadilan dalam supremasi hukum seperti itu.

Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: adakah patut engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah, dan berkata:
‘Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka bebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukum’. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Abu Daud, Ahmad, Dariini, dan Ibnu Majah)

“Sesungguhnya Allah akan melindungi negara yang menegakkan keadilan walaupun ia kafir, dan tidak akan melindungi negara yang dzalim (tiran) walaupun ia muslim”. (Mutiara I dr Ali ibn Abi Thalib)

Pilihlah pemimpin yang jujur:

Dari Ma’qil ra. Berkata: saya akan menceritakan kepada engkau hadist yang saya dengar dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda: “seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat (pejabat), kalau ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia tidak akan memperoleh bau surga”. (HR. Buykhari)

Pilih pemimpin yang mau mencegah dan memberantas kemungkaran seperti korupsi, nepotisme, manipulasi, dll:

“Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)

Pilih pemimpin yang bisa mempersatukan ummat, bukan yang fanatik terhadap kelompoknya sendiri:

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyatakan dalam Al Qur’an : “ … Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian, orang-orang Muslim, dari dahulu … .” (QS. Al Hajj : 78)

Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menukil satu hadits yang berbunyi :

“Barangsiapa menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah maka sesungguhnya dia menyeru ke pintu jahanam.” Berkata seseorang : “Ya Rasulullah, walaupun dia puasa dan shalat?” “Ya, walaupun dia puasa dan shalat, walaupun dia mengaku Muslim. Maka menyerulah kalian dengan seruan yang Allah telah memberikan nama atas kalian, yaitu : Al Muslimin, Al Mukminin, Hamba-Hamba Allah.” (HR. Ahmad jilid 4/130, 202 dan jilid 5/344)

Ada beberapa sifat baik yang harus dimiliki oleh para Nabi, yaitu: Amanah (dapat dipercaya), Siddiq (benar), Fathonah (cerdas/bijaksana), serta tabligh (berkomunikasi dgn baik dgn rakyatnya). Sifat di atas juga harus dimiliki oleh pemimpin yang kita pilih.

Pilih pemimpin yang amanah, sehingga dia benar-benar berusaha mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya bisa menjual aset negara atau kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Pemilih yang cerdas pasti memilih pemimpin yang cerdas dan berkualitas, sehingga dia tidak bisa ditipu oleh anak buahnya atau kelompok lain sehingga merugikan negara. Pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan rakyatnya.

Terkadang kita begitu apatis dgn pemimpin yang korup, sehingga memilih Golput. Sikap golput atau tidak memilih pemimpin merupakan sikap yang kurang baik. Dalam Islam, kepemimpinan itu penting, sehingga Nabi pernah berkata, jika kalian bepergian, pilihlah satu orang jadi pemimpin. Jika hanya berdua, maka salah satunya jadi pemimpin. Sholat wajib pun yang paling baik adalah yang ada pemimpinnya (imam).

Oleh karena itu, ummat Islam harus mencari dan memilih pemimpin yang baik.

Saya melihat di satu gereja ada seminar untuk menghadapi pemilihan mendatang, agar jemaah mereka tidak salah pilih. Ummat Islam juga harus begitu, apalagi Allah dan Rasulnya telah memerintahkan untuk memilih pemimpin yang baik.